Rabu, 29 Februari 2012

Kenaikan BBM dan Wasit Tidak Adil Hantui Indonesia

Zona Aneh - Kenaikan BBM dan Wasit Tidak Adil Hantui Indonesia - Kerut di kening ibu muda itu tampak makin nyata. Ia berusaha mencermati sekali lagi kalender meja yang ada dihadapannya. Seolah tak percaya bahwa hari itu baru pertengahan bulan.

Dibongkarnya sekali lagi itu struk-struk pengeluarannya setengah bulan terakhir. Kemudian ia kembali memeriksa isi dompetnya dan sekali lagi ia hanya menemukan beberapa lembar uang kertas ratusan ribu di sana. Jumlah yang hampir bisa dipastikan tidak cukup menghidupi keluarganya sampai akhir bulan. Sekarang ia duduk bertopang dagu. Tatapannya hampir kosong. Akhirnya terdengar desahan nafas panjang dihembuskannya, seolah ingin membuang semua beban berat yang dirasanya lewat hembusan nafas itu.

Penggalan scene di atas bisa jadi saat ini hanya rekaan dalam imajinasi saya saja. Namun, bulan April mendatang, kemungkinan besar scene tersebut akan dialami oleh banyak ibu muda di negeri ini. Ya. Setelah tertunda November 2011 lalu, mulai 1 April mendatang, pemerintah sudah menetapkan akan mulai memberlakukan pembatasan konsumsi BBM subsidi. Pembatasan BBM bersubsidi ini diyakini hanyalah sebagai kata lain dari kenaikan harga BBM. Bahkan, jika pada kenaikan BBM yang telah lalu hanya sampai �..%, maka kali ini kenaikan itu jauh lebih tinggi, yakni mencapai 100%.

Dari kejadian ini, paling tidak ada beberapa hal yang dapat kita tarik pelajaran. Pertama bahwa kenaikan harga bahan bakar (BBM) membuktikan kalau pemerintah tidak menjalankan mandat penguasaan sumber daya minyak dengan baik. Pemerintah telah dipercaya oleh rakyat untuk mengeksplorasi dan mendayagunakan sumber daya minyak bumi pertiwi ini untuk kepentingan hajat hidup orang banyak, namun pemerintah kita telah melalaikan tugas itu.

Pelajaran kedua adalah bahwa pemerintah kita sama sekali tidak berpihak pada kepentingan ekonomi nasional. Pemerintah yang bercita-cita untuk mandiri dan berdaulat benar-benar jauh panggang dari api. Mereka sekan tidak mendengar riuhnya teriakan dan protes dari rakyatnya sendiri. Mereka juga seakan tidak melihat betapa kerasnya kehidupan yang harus dilewati rakyatnya hari demi hari. Mereka juga seakan sama sekali tidak dapat merasakan betapa banyak peluh dan keringat yang harus diperas rakyatnya hanya untuk sekedar mengganjal perut.

Pelajaran terakhir adalah bahwa jika menilik pendapatan mayoritas rakyat saat ini, maka kenaikan BBM ini sama sekali tidak memberikan keadilan. Sekalipun pemerintah berusaha menutupinya dengan program keluarga harapan atau apapun namanya nanti. Bagaimana tidak, dengan harga kebutuhan sehari-hari yang semuanya mahal, dan akan semakin mahal pada April mendatang, dilengkapi dengan biaya pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang jauh dari jangkauan, maka kenaikan harga BBM kali ini benar-benar semakin mencekik rakyat.

Dengan segenap alasan yang tidak dapat diterima akal sehat dan nurani manusia, langkah-langkah pembatasan BBM bersubsidi ini hanya sekali lagi membuktikan betapa pemerintah kita bahkan tega mengorbankan rakyatnya sendiri demi menyenangkan hati bos-bos besar pemilik uang di luar sana. Cita-cita liberalisasi migas yang demikian kejam tampak semakin nyata.

Jadi, pemerintah kita saat ini adalah pengurus rakyat atau sekedar wasit dari pertandingan tidak imbang antara korporat asing dengan rakyat kecil?
sumber:Tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar