Sabtu, 03 Maret 2012

Puluhan Pendaki Terjebak di Merapi

Puluhan Pendaki Terjebak di Merapi
Zona Aneh - Puluhan pendaki terjebak di lereng Gunung Merapi akibat cuaca buruk sepanjang Jumat (2/3) sore sampai Sabtu (3/3) malam. Mereka terpaksa berlindung di sela-sela bebatuan untuk menghindari hujan dan angin kencang.

Cuaca ekstrem itu merupakan salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Para pendaki yang terjebak tersebut berasal dari Tim Ekspedisi Gunung Merapi Magelang, empat pendaki profesional dari Polandia, serta lima mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Sementara, lima mahasiswa pencinta alam dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menunda pendakian dan bertahan di Pos New Selo, Kabupaten Boyolali, akibat hujan dan angin yang melanda sepanjang malam.

Para pendaki terjebak badai ketika memasuki Pos 2 Gunung Merapi di kawasan Seloklopo Atas. Daerah itu berjarak sekitar 45 menit dari Pasar Bubar, sekitar dua jam perjalanan ke puncak Gunung Merapi.

�Hujan sangat deras dan angin bertiup kencang. Kami kesulitan melanjutkan perjalanan sehingga berlindung di Gua Landa,� kata anggota Tim Ekspedisi Gunung Merapi Magelang, Zainal Arifin.

Gabungan
Tim itu merupakan gabungan komunitas relawan pemantau lahar Linang Sayang Communication (LSC), Tim Search and Rescue (SAR) Kabupaten Magelang, Forum Jurnalis Magelang (FJM), dan GP Ansor.
Mereka melakukan ekspedisi untuk mengetahui kondisi terkini kawah Merapi dan endapan material hasil erupsi 2010 yang berpotensi memicu banjir lahar.

Seperti diketahui, pertengahan Februari lalu aktivitas Gunung Merapi kembali meningkat yang ditandai dengan tingkat kegempaan tinggi. Total anggota tim berjumlah 22 orang. Sebanyak 19 orang mendaki ke Merapi, sedangkan tiga lainnya bertugas sebagai tim rescue dan mendirikan base camp di dekat Pos Pemantau Gunung Merapi Selo, Boyolali.

Di tengah perjalanan, kondisi kesehatan tujuh personel pendaki menurun, sehingga mereka memutuskan kembali ke bawah. Dua di antaranya, Robin dan Andi JJ, mengalami kram di kaki dan perut akibat terus menerus kehujanan dan terkena angin kencang.

Mereka mengalami gejala hipotermia, yakni penurunan suhu tubuh terus menerus akibat tekanan suhu dingin. �Kedua kaki saya tidak bisa digerakkan. Dicubit tidak terasa. Rasanya dingin sekali dan pusing-pusing. Kami kemudian turun dipapah teman-teman relawan. Kami sebenarnya sudah memakai jaket dan jas hujan, tapi tetap tembus. Cuaca di atas sangat mengerikan,� kata Robin.

Terpisah
Sementara itu, pendaki lain melanjutkan pendakian setelah cuaca sedikit membaik. Namun belum sampai di kawasan Pasar Bubar, cuaca kembali memburuk. Mereka akhirnya menghentikan pendakian di Pos 2, di kawasan yang disebut Seloklopo Atas. Ketika turun, tiga personel FJM terpisah dari rombongan. Mereka tidak bisa dikontak baik melalui telepon seluler maupun radio komunitas (HT). Hal itu membuat pendaki lain khawatir.

Tiga anggota rescue dibantu relawan Jalin Merapi dan Komunitas Lereng Merapi (KLM) menyusul ke Pos 2 untuk membantu anggota tim ekspedisi turun. Ketiga personel FJM dari media cetak dan televisi tersebut ditemukan sedang berlindung di bebatuan besar. Untuk mengusir dingin, mereka membuat api unggun dari ranting-ranting kering. Setelah kembali bergabung, mereka turun bersama-sama. �Kami sebenarnya membutuhkan tandu untuk membawa pendaki yang kram kaki parah. Namun karena kondisi medan curam, kami tidak bisa menggunakan tandu. Untunglah dibantu rekan-rekan dari Boyolali,� kata Andi, pendaki lainnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sarwa Pramana menugaskan BPBD Kabupaten Magelang dan BPBD Boyolali mengirim tim penyelamatan ke Pos New Selo untuk mengantisipasi kemungkinan buruk. Mereka dilengkapi tim rescue dan tim kesehatan dari PMI Kabupaten Boyolali. �Semua pendaki turun dengan selamat. Jika saya tahu cuaca seperti itu, tentu saya akan minta pendakian ditunda,� kata Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang, Heri Prawoto.

Di Bandung, Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Dr Surono mengatakan, keluarnya kepulan asap dari kawah Merapi merupakan fenomena lumrah pada musim penghujan. �Itu merupakan air hujan yang terpanaskan di kawah,� jelasnya. Pria yang akrab disapa Mbah Rono itu tak menampik bahwa aktivitas Merapi sempat menanjak. Frekuensi gempa multiphase dan gempa vulkanik dangkal meningkat pada pertengahan Februari.

Namun, perkembangan selanjutnya menunjukkan tren menurun. Ketika asap masih muncul dari kawah Merapi, Mbah Rono menyebutkan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil pertemuan air hujan dengan gas atau fluida dari dapur magma yang menuju ke permukaan. �Karena terkena panas dari dalam, air hujan pun cepat berubah menjadi uap yang pasti akan keluar dari kawah,� ujarnya.

Proses tersebut diperkirakan berlangsung selama musim penghujan. PVMBG melengkapi pantauan perkembangan itu dengan data curah hujan yang terus diperbaharui. �Ramalan cuaca menunjukkan bahwa intensitas curah hujan di sekitar puncak Merapi memang tinggi,� katanya. (H66,dwi-59)
sumber:suaramerdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar